Dimanakah mereka mahasiswa yang tetap berpikir merdeka???

“Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.” -soe hok gie-

Kalimat di atas mungkin salah satu kalimat yang membakar para mahasiswa untuk demonstrasi. Sayangnya banyak mahasiswa berdemontrasi mengatasnamakan kebenaran, atas nama rakyat kecil tetapi ternyata mereka banyak juga yang berdemonstrasi dengan ego kepentingan golongan pergerakan masing-masing atau malah sekedar ikut-ikutan untuk unjuk gengsi organisasi mahasiswa itu sendiri, atau demo anarkis melampiaskan kemarahan terhadap pemerintah dengan merusak fasilitas umum bahkan gedung wakil rakyat yang dibangun dengan uang rakyat pula.

“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” -soe hok gie-
Saya tergelitik ketika membaca tulisan ini dari perspektif yang berbeda. Buat kalian para mahasiswa yg berdemo mengatas namakan kepentingan rakyat dan para pendukungnya. Yang merasa perbuatan mereka benar. Silahkan baca ini baik-baik.

“Kalian para MAHASISWA membawa nama kami di jalan. Berteriak sana-sini mengatas namakan kepentingan kami masyarakat Indonesia. Rakyat kecil, pegawai kecil, buruh, alih-alih membela kami kalian justru menghancurkan fasilitas umum yang dibangun dengan uang dan keringat kami.

Tak jarang kalian membuat kami ketakutan dan ngeri dengan perbuatan kalian. Kalian seperti binatang yg membabi buta. Tak jarang kalian bentrok dengan warga sekitar, padahal kami (warga) juga rakyat.
Yang lebih lucu lagi dari protes kalian adalah kalian merusak kantor-kantor, restoran cepat saji, showroom mobil, mobil dinas yang membelinya menggunakan uang rakyat, mobil pengangkut minuman dan makanan, tak jarang kalian menjarah isinya. Dan kalian lupa, satpam, office boy, pejalan kaki, pelayan, supir dan pegawai kecil lainya adalah kami MASYARAKAT INDONESIA!!

Yang katanya kalian bela, tahu kah kalian wahai yang katanyaMAHAnyaSISWA, kami supir taksi, supir angkot dan metromini tak berani menarik penumpang karena takut terjebak ditengah keributan dan menjadi korban. Padahal keluarga kami butuh makan. Tahukah kalian kami OB dan pegawai rendahan. Terpaksa harus mengeluarkan ongkos lebih banyak hanya untuk menghindari daerah kerusuhan yg kalian ciptakan. Apakah kalian pernah berfikir, kalian bukanya meringankan beban kami, kalian justru menambah beban kami, bisakah kalian berdemo dengan cara yang lebih mulia??!!

Belajarlah, kembali kebangku kuliah kalian. Jadilah juara. Jadilah orang hebat yang kelak memimpin negara ini, yang kelak jadi direktur, yang kelak jadi manager atau bahkan kelak jadi pengusaha hebat. Bukalah lapangan pekerjaan buat kami, majukanlah kami, kehidupan kami rakyat miskin dengan cara yg lebih baik, majukanlah bangsa ini dengan prestasi kalian. Jangan biarkan simpati kami berubah menjadi antipati terhadap kalian, jangan biarkan arti MAHASISWA sama dengan PREMAN atau malah SETAN”
Pak Boedi Oetomo, Pak Hadjar Dewantara dan Koko Soe Hok Gie mungkin akan menangis melihat kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda yang bersifat anarkis dalam menyampaikan aspirasi yang katanya untuk “Wong Cilik”.

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.” -soe hok gie-

Rumput Tetangga Tak Lebih Hijau

Barangkali kita pernah mendengar perdebatan kecil antara seseorang  yang berprofesi pedagang dengan kawannya yang karyawan kantor. Si pedagang dengan kawannya yang karyawan kantor. Si pedagang memandang, nasib dan kehidupan temannya jauh lebih enak darinya. Sebagai karyawan kantor, tentu ia tak perlu repot-repot keluar rumah sejak pagi buta, memeras keringat mengedarkan dagangan, terpanggang terik matahari, bergelut dengan persaingan para pedagang lain dengan hasil yang tidak pasti. Karyawaan  kantor kerjanya lebih enak. Cuma duduk, dengan kipas angin atau AC, pekerjaan yang tak meneteskan keringat dan hasil yang pasti setiap tanggal muda.

Tapi kemudian si karyawan membantah bahwa kehidupan si pedaganglah yang lebih  enak. Menurutnya, berdagang bisa menghasilkan uang setiap hari, bisa libur kapan saja, lebih bebas dan hasilnya bisa berlipat. Sedang menjadi karyawan pola hidupnya monoton, duduk terus dan juga rawan menimbulkan penyakit, dan gaji bulanan seringnya hanya mampir di dompet, untuk kemudian segera lenyap guna membayar hutang dan berbagai tagiahan setiap bulannya.

Begitulah manusia. sering merasa tidak puas dengan apa yang sudah diterima dan melihat apa yang ada pada orang lain jauh lebih baik ketimbang miliknya. Orang jawa bilang sawang sinawang. Masing-masing melihat kehidupan yang dijalani serasa lebih buruk dan tak seindah  orang lain. pepatah mengatakan, rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Kehidupan, mulai dari pekerjaan , rumah bahkan isteri orang lain, terasa lebih “hijau” dibanding milik sendiri. Itulah fatamorgana dunia. Seperti dua orang yang berdiri berjauhan di padang pasir. Dari kejauhan, yang satu melihat tanah yang dipijak temannya penuh dengan air yang sejuk, pula sebaliknya. Padahal keduanya hanya melihat fatamorgana dan sama-sama tengah berada di tempatnya yang tidak nyaman.

Dari Nafsu

Persepsi semacam ini lahir karena masing-masing orang tidak mengetahui dan merasakan hakikat dari apa yang dilihat dari orang lain. Yang tampak hanya kulit, bukan isi dan rasa yang sebenarnya. sehingga masing-masing menyangka, kehidupan dan nasib orang lain tampak lebih bahagia dan menyenangkan.

Sebenarnya, hal ini bukan fenomena aneh, hampir setiap orang pernah merasakannya. Itu karena persepsi semacam ini  berakar dari nafsu; sesuatu yang dimiliki  oleh setiap manusia. Karakter nafsu selalu haus, tidak pernah dan tidak akan bisa puas dengan apa yang dimiliki. Nabi bersabda yang intinya, nafsu manusia tidak pernah puas, meski sudah punya satu gunung emas, dia masih akan mencari dan menginginkan gunung emas yang lain.

Apa bukti semua itu berakar pada nafsu? buktinya, “rumput tetangga” yang  dipersepsikan selalu tampak lebih hijau itu selalu berkonotasi pada karunia dan nikmat dunia semata. Uang, rumah, kendaraan, rupa, isteri, pekerjaan, jabatan, popularitas, kekuasaan dan kenikmatan duniawi yang lain. Tidak ada yang mempersepsikan karunia ukhrawi sebagai “rumput yang hijau”, yang kemudian membuat iri dan ingin dimiliki oleh yang melihatnya. Seseorang yang rajin sholat, shaum, ahli ibadah dan sedekah, tapi miskin tidak akan dianggap memiliki “rumput yang lebih hijau”. Bahkan kemulianan berupa ilmu agama seklaipun. Karena menurut nafsu, karunia semacam ini (amal dan ilmu akhirat), bukanlah sebuah  kenikamatan. Maka jelaslah sudah bahwa semua ini hanyalah hembusan nafsu. Karenanya kita harus berhati-hati, semua yang berasal dari nafsu sering dijadikan setan sebagi terowongan  untuk menerobos ke dalam pertahanan jiwa manusia. Menggoda dan menjebak manusia pada dosa dan kehancuran.

Ide Busuk

Persepsi “rumput tetangga terlihat lebih hijau” ini tidak boleh dipelihara dalam jiwa. Harus segera diredam dan dihilangkan. Sebab jika tidak, pandangan ini akan mengikis syukur dan menumbuh suburkan rasa tamak. sedangkan manusia yang sedikit rasa syukurnya dan besar ketamakannya adalah profil manusia yang ‘diidamkan’ setan. Bukanlah target awal dedengkot kesesatan, iblis la”natullah ’ alaih, adalah memperkecil populasi hamba Allah yang suka bersyukur ?

Itu yang pertama. Yang kedua, setelah syukurnya berkurang tamaknya bertambah. Ia akan berusaha mendapatkan seperti atau bahkan apa yang dimiliki orang lain. Di sini, setan akan menawarkan ide-ide busuk agar ia menempuh jalan pintas. Sayangnya, jalan-jalan pintas yang ditawarkan adalah jalan yang berujung pada kebinasanan. Kasus lama yang diberitakan koran, seorang pedagang yang telah sukses, sangat berkeinginan menjadi pejabat. Habis-habisan mencalonkan diri, tapi gagal dan akhirnya menderita tekanan batin. Ada lagi yang mengira menjadi selebriti sangat menyenangkan. Akhirnya, segala hal yang ia punyai pun dikorbankan. Tak terkecuali keperawanan. Dan banyak pula yang memandang isteri atau suami orang lain lebih  :”hijau” dari pasangannya. Tawaran setan diterima dan akhirnya terjadilah perselingkuhan. Na’udzubillah min dzalik.

Redakan Segera !

Untuk meredakan perasaan semacam ini, hendaknya kita berhenti sejenak untuk merenung lebih dalam. Mawas diri dan merenungi semua kenikmatan yang telah kita terima. Lebih cermat, adil dan bijak dalam menilai setiap karunia dan ketetapan Allah atas kita. Lalu, mencoba menyibak tirai hikmah yang mengiringi setiap pemberian dan takdir-Nya.

Rumput tetangga terlihat lebih hijau, barangkali karena kita melihatnya dari jauh. Namun jika kita amati dari dekat mungkin persepsi kita akan berubah, ternyata rumputnya tak lebih baik dari rumput di halaman kita. Artinya segala yang telah kita terima, sebenarnya tak kalah indah dengan apa yang diberikan pada orang lain.Orang bilang, jika kita bisa mengambil yang terbaik dari segala ketetapan-Nya, maka kita akan selalu menerima yang terbaik. Dan sebenarnya, setiap kenikmatan duniawi yang ditambahkan, akan senantiasa diiringi ketidakenakan yang sama besar dengan kenikmatan tersebut. Wallahua’lam.

Dari sini mungkin kita akan lebih dewasa dalam menerima segala nikmat dan karunia dari-Nya. ini memang bukan urusan mudah karena terkait dengan nafsu. Sedang kita tidak mungkin membunuh nafsu. Maka, tidak ada yang bisa kita lakukan selain belajar dan berusaha menepis hasrat nafsu dan tidak tertipu muslihat setan. Semoga dengan begitu, kita bisa menjadi hamba yang senantiasa bersyukur dan melihat nikmat Allah yang telah kita terima dengan mata berbinar. Amin.

Meniti menuju Cahaya I

Salam Cahaya!!!

Sebuah cerita kecilku yang terinspirasi dari kunang-kunang seperti kalian,

Jalan cahaya itu selalu ada, ketika itu aku dalam kegelapan raga yang tak tahu harus berbuat apa untuk orang – orang di sekitar kita dan cahaya kunang – kunang itu tiba – tiba berkumpul di jalanku, menerangi.

Juli 2010 di Puri Pipit yang menginspirasi akan peduli, peduli kepada anak- anak negeri ini. Aksi nyata untuk anak bangsa, dan dalam dekap malamku merenung dan mencari kepingan cahaya ragaku untuk berbuat bermanfaat sedikit dan terus mencari inspirasi dari kalian wahai Pejuang!! Aku mulai tergoda untuk memacu adrenalinku tuk mengubah kendaraan hidupku, bahwa aku bukan untuk hidupku sendiri tetapi hidupku itu adalah memberi, bermanfaat dan terus menegakkan cahaya kebenaran sampai raga ini tak berisi.

Mulai beraksi dengan anak- anak jalanan di Raden Intan, membaur dan bersenda gurau dengan mereka yang marjinal tetapi dengan polos terus berlari untuk mengejar mimpi.

Nantikan cerita selanjutnya di Meniti Munuju Cahaya II

PENGAMATAN SUMBER AIR PANAS DI DAERAH WAY RATAI LAMPUNG SELATAN

                                              Abstrak

                                               Oleh:

                                          Septian Cahyadi 

                             Teknik Geofisika Universitas Lampung

Potensi panasbumi Way Ratai yang terletak di Propinsi Lampung merupakan salah satu potensi panasbumi yang belum dieksplorasi secara terpadu. Sementara daerah ini relatif dapat terjangkau oleh kendaraan, sehingga sangatlah menarik untuk mengkaji daerah ini secara terpadu dan mendalam. Prinsip dasar dari suatu sistem panasbumi adalah suatu daur hidrologi air (air tanah dan hujan) dimana dalam perjalanannya berhubungan dengan sumber panas (heat source) yang bertemperatur tinggi, sehingga terbentuk air panas atau uap panas yang terperangkap dalam batuan yang berporous dan mempunyai permeabilitas yang tinggi. Uap dan air panas tersebut akan muncul ke permukaan melalui struktur-struktur seperti sesar dan rekahan (kekar). Geyser adalah panas yang berasal dari dalam bumi. Panas dari dalam bumi ini menghasilkan energi yang ditimbulkan dari panas tersebut. Sumberdaya energi panas bumi dapat ditemukan pada air dan batuan panas di dekat permukaan bumi sampai beberapa kilometer di bawah permukaan. Bahkan jauh lebih dalam lagi sampai pada sumber panas yang ekstrim dari batuan yang mencair atau magma. Energi panas bumi adalah energi yang dihasilkan oleh tekanan panas bumi. Energi ini dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagai salah satu bentuk dari energi terbaharui, tetapi karena panas di suatu lokasi dapat habis, jadi secara teknis dia tidak diperbaharui secara mutlak. Pada pengamatan praktikum kali ini yang dijadikan pengamatan adalah lingkungan vegetasi yang terpengaruhi alterasi batuan dari sumber panas bumi dan lingkungan sumur manifestasi.

the 11th Annual Indonesian Geothermal Meeting & Conference

PERTEMUAN ILMIAH TAHUNAN XI ASOSIASI PANASBUMI INDONESIA

Lampung, 12-15 Desember 2011

Accelerating Geothermal Development in Indonesia and Strengthening Geothermal Science and Technology”

Tempat            : Novotel Hotel
                                      Jl. Gatot Subroto No.136

                          Bandar lampung 35226
                                    (0721) 477999

            Tanggal           :12-15 Desember 2011

            Jam                  : 08.00-21.00 WIB

Program Acara :

1.      Keynote Speech dan Diskusi Panel (Kementerian SDM, Kementerian Kehutanan, KementerianKeuangan, Kepala Daerah, PLN, Perusahaan Geothermal)

2.      Technical Session (Paper Presentatation)

3.      Diskusi

4.      Exhibition

5.      Kursus Singkat

6.      Fieldtrip

7.      Turnamen Golf

P  Para pembicara akan diundang dari:

1.      Kementerian ESDM

2.      Kementerian Kehutanan

3.      Kementerian Keuangan

4.      Bupati Sukabumi (Jawa Barat)/ Bupati Tomohon (Sulawesi Utara)

5.      PLN

6.      Industri Geothermal

DON’T MISS IT!!!

Anak Jalanan dan Masalah Sosial

tentang anak jalanan seolah-olah tidak ada henti-hentinya. Derita dan penyiksaan yang mereka alami terkadang membuat kita sedih. Mereka harus berjuang ditengah-tengah kota yang kejam untuk mendapatkan sejumlah uang agar mereka bisa bertahan hidup dan tidak kelaparan. Jual rokok, membersihkan bus umum, atau juga penjaja koran, barangkali itu yang dapat mereka lakukan. Keuntungan yang mereka terima tidak seberapa, namun itu harus mereka lakukan agar mereka tetap hidup di kota metropolis ini. Anak jalanan ini biasanya mangkal diterminal atau dipersimpangan-persimpangan jalan.

Namun belakangan ini kita dengar bahwa puluhan anak jalanan berdelegasi ke DPRD tingkat I Sumut karena mereka digusur dari terminal Amplas, Mimbar umum, 17/10/1995. berita ini sungguh mengenaskan karena apa yang mereka lakukan adalah sebenarnya karena factor ekonomi. Keadaan ekonomi yang memaksa mereka harus bekerja, dan pekerjaan yang bisa mereka lakukan untuk seusia mereka adalah sector informal.

Penggusuran terhadapa anak ini akan memperparah keadaan. Akan timbul masalah social yang akan lebih besar. Anak-anak yang akan digusur akan kehilangan mata pencaharian, sedangkan secara ekonomi, mereka harus mencari lapangan usaha yang mampu memenuhi kebutuhannya. Bila lapangan usaha tersebut hilang, maka meraka akan mencari lapangan usaha lain, dan bila ini tidak didapatkan, mereka akan melakukan tindakan apa saja yang penting bagi mereka bisa menghasilkan uang. Dan ini yang menimbulkan dampak social. Sebab apa yang mereka lakukan sudah tidak memperhatikan norma-norma hukum yang berlaku. Bila ini sudah terjadi tentunya aparat keamanan akan semakin disibukkan kembali. Pencopetan, perampokan, penodongan dan tindak criminal lainnya akan menjadi suatu tindak pidana baru yang pelakunya adalah anak-anak di bawah umur.

Anak jalanan: Dilema? Sebenarnya isltilah anak jalanan pertama kali diperkenalkan di Amerika Selatan atau Brazilia yang digunakan bagi kelompok anak-anak yang hidup dijalanan umumnya sudah tidak memiliki ikatan tali dengan keluarganya. Anak-anak pada kategori ini pada umumnya sudah terlibat pada aktivitas-aktivitas yang berbau criminal. Kelompok ini juga disebut dalam istilah kriminologi sebagai anak-anak dilinguent. Istilah ini menjadi rancu ketika dicoba digunakan di negara berkembang lainnya yang pada umumnya mereka masih memiliki ikatan dengan keluarga. UNICEF kemudian menggunakan istilah hidup dijalanan bagi mereka yang sudah tidak memiliki ikatan keluarga, bekerja dijalanan bagi mereka yang masih memiliki ikatan dengan keluarga. Di Amerika Serikat juga dikenal istilah Runauay children yang digunakan bagi anak-anak yang lari dari orang tuanya.

Walaupun pengertian anak jalanan memiliki konotasi yang negatif di beberapa negara, namun pada dasarnya dapat juga diartikan sebagai anak-anak yang bekerja dijalanan yang bukan hanya sekedar bekerja di sela-sela waktu luang untuk mendapatkan penghasilan, melainkan anak yang karena pekerjaannya maka mereka tidak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar baik secara jasmnai, rohani dan intelektualnya. Hal ini disebabkan antara lain karena jam kerja panjang, beban pekerjaan, lingkungan kerja dan lain sebagainya.

Anak jalanan ini pada umumnya bekerja pada sector informal. Phenomena munculnya anak jalanan ini bukanlah karena adanya transformasi system social ekonomi dan masyarakat pertanian ke masyarakat pra-industri atau karena proses industrialisasi. Phenomena ini muncul dalam bentuk yang sangat eksploratif bersama dengan adanya transformasi social ekonomi masyarakat industrialsasi menuju masyarakat yang kapitalistik.

Kaum marjinal ini selanjutnya mengalami distorsi nilai, diantaranta nilai tentang anak. Anak, dengan demikian bukan hanya dipandang sebagai beban, tetapi sekaligus dipandang sebagai factor ekonomi yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah ekonomi keluarga. Dengan demikian, nilai anak dalam pandangan orang tua atau keluarga tidak lagi dilihat dalam kacamata pendidikan, tetapi dalam kepentingan ekonomi. Sementara itu, nilai pendidikan dan kasih saying semakin menurun. Anak dimotivasi untuk bekerja dan menghasilkan uang.

Dalam konteks permasalahan anak jalanan, masalah kemiskinan dianggap sebagai penyebab utama timbalnya anak jalanan ini. Hal ini dapat ditemukan dari latar belakang geografis, social ekonomi anak yang memang datang dari daerah-daerah dan keluarga miskin di pedesaan maupun kantong kumuh perkotaan. Namun, mengapa mereka tetap bertahan, dan terus saja berdatangan sejalan dengan pesatnya laju pembangunan?

Ada banyak teori yang bisa menejlaskan kontradiksi-kontradiksi antara pembangunan dan keadilan-pemerataan, desa dan kota, kutub besar dan kutub kecil, sehingga lebih jauh bia terpetakan lebih jela persoalan hak asasi anak. Meskipun demikian, kemiskinan bukanlah satu-satunya factor penyebab timbulnya masalah anak jalanan. Dengan demikian, adanya sementara anggapan bahwa masalah anak jalanan akan hilang dengan sendirinya bila permasalahan kemiskinan ini telah dapat diatasi, merupakan pandangan keliru.

Strategi dan penanggulangannya

Kasus-kasus penggusuran , pelarangan, penangkapan, pemukulan yang menimpa anak-anak jalanan juga menjadi bukti bagaimana pembangunan memenangkan struktur formal yang bermodal dan mampu membayar pajak kepada negara, sehingga public space of economy dikuasai dan dimonopoli oleh struktur formal. Selain itu formalisasi juga ditampilkan melalui praktek-praktek yang sama dengan legitimasi nilai bahwa pembangunan hanya akan berjalan akibat kontribusi sector formal. Sementara sector informal, dimana anak-anak jalanan tumbuh dan berkembang, sekali lagi dianggap sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan. Potret pembangunan memang deskriminatif dalam memberlakukan sector informal, baik karena logika ekonomi yang dianut maupun karena legitimasi nilai formal yang melatarinya. Ada banyak perangkat nilai, norma ataupun hokum yang selalu digunakan untuk mencari pembenaran terhadap tindakan itu, Bisa Perda, Program Kebersihan dan ketetiban, peraturan penertiban, atau nilai-nilai social diskriminatif lainnya. Hukum-hukum tersebut tidak mampu dihadapi oleh bocah-bocah kecil yang tidak mempunyai kekuasaan.

Dari urutan di atas dapat dilihat betapa kompleksnya masalah anak jalanan ini sehingga penanggulan anak jalanan ini tidak hanya dapat dilakukan secara efektif bila semua pihak tidak ikut melakukannya seperti pemerintah, LSM, masa media, individu-individu dan organisasi-organisasi keagamaan.

Penanggulangan ini dapat dilakukan dengan pertama: melalui proram aksi langsung. Program ini biasanya ditujukan kepada kelompok sasarannya yaitu para anak jalanan, misalnya saja memberikan pendidikan non-formal, peningkatan pendapatan keluarga, pelayanan kesehata. Tipe pekerjaan ini biasanya yang dilakukan oleh LSM-LSM. Kedua adalah program peningkatan kesadaran masyarakat. Aktivitas program ini untuk menggugah masyarakat untuk mulai tergerak dan peduli terhadap masalah anak jalanan. Kegiatan ini dapat berupa penerbitan bulletin, poster, buku-buku, iklan layanan masyarakat di TV, program pekerja anak di radio dan sebagainya.

Penutup

Masalah anak jalanan adalah masalah yang sangat kompleks yang menjadi masalah kita bersama. Masalah ini tidak dapat ditangani hanya oleh satu pihak saja melainkan harus ditangani bersama-sama oleh berbagai pihak yang perduli permasalahan ini juga dapat diatasi dengan suatu program yang komprehensi dan tidak akan dapat tertangani secara efektif bila dilaksanakan secara persial. Dengan demikian kerja sama antara berbagai pihak, pemerintah, LSM, masa media mutlak diperlukan.

Khusus mengenai aspek hukum yang melindungi anak jalanan yang terpaksa bekerja juga merupakan komponen yang perlu diperhatikan karena masih lemahnya peraturan dan perundang-undangan yang mengatur masalah ini.

Penulis adalah staff litigasi lembaga advokasi anak Indonesia (LAAI) dan mahasiswa FII- USU.

(Sumber: Harian Mimbar Umum, ed. 14 November 1995. Dipublikasikan kembali oleh Media Officer PKPA: Jufri Bulian Ababil)